Penat Dalam Penantian

Dalam Penantian
Penat Dalam Penantian


Aku menatapi senja yang merah di ujung peraduan
Hati yang lama membekku menyimpan sesak nyilu
lengang sendirian teman setia ku
sajak sajak menyimpan dendam di atas lembar
pekik ku luka merajam dusta
gerimis bercucuran mewakili tangis di pipi

Aku pergi menitipkan air mata tiap bait ini
malam tak secepat datang seperti ku inginkan
luka dan duka menyatu di tiap warna merah senja
Resahku menghias di tiap baris kalimat
Dukaku menghias di tiap lembar kalimat
Mendungku menghias di tiap goresan tinta
huruf yang ku tulis pecah jadi bongkahan retak
sepi datang kembabli

Aku masih ingin menggores kenangan indah
sejarah yang harum bersama puisi puisi ku ini
melukis pelangi menjadi seribu warna
kalau saja ada waktu ku genggam tak lepas
tetapi
pitalan lara malah menyisakan dendam
merajut kisah di atas dusta
pada siapa yang akan memahami
kesepian yang mengalir liri
sajak yang hilang di balik senyum
yang merindukan, yang terluka
yang menginginkan, yang menangis
mimpi merasuk dalam hati dan pergi
langit jadi saksi bisu harapan
mendambakan bulir-bulir cinta
yang ku damba cahayaa terang datang
ketika malam ku tiba
dan pagiku bersua mesra
bagiku menunggu lebih mudah
daripada kepastian tak jelas
dan rindu menusuk jadi busuk
ku ikhlas menahan rindu yang mendesah
ku tetap bertahan di kepingan luka
dan hanya Tuhan yang tahu
ketika rindu perlahan lahan panas mendarah
adakah senja senja yang di lahirkan selain rindu
yang di ikat? agar aku dan puisi menggema jadi lagu
yang nyentuh bahagia
adakah??

Selasa, 08.41
03.10.2017
diaryanafatih.blogspot.com



Subscribe to receive free email updates: