Dalam senyap ku peluk malam
hening membisu padam kegegelapan
seruling rindu ku menggema merdu
di tengah sunyi meniup sepi
sekian kali mencekam waktu
ku putar ingatan masih terpaku
diam berdiri melawan ombak
di pinggir pantai aku berteriak
bersama alunan mendayu,
memanggil sang kekasih
langit tertutup awan
seiring senja bermunculan
mendengar nyaring tiupan seruling
khayalan menjelma di benak
menderu deru tak meninggalkan sapa
luka makin menganga,
desiran tetap membisu
aku mati,
hidup pun tak berarti
Aduhai seruling rindu ku
izinkan saja aku pergi
bersama aturan langkah ku sendiri
pulang tempat ku kembali,
bila Esok,?
aku masih menyimpan gelisah
dan rindu yang membelit belit
aku tak kan takut melawan sepi
akan aku bunyikan suara seruling ku
lebih nyaring lagi,,
jauh lebih merdu dan mendayu dayu
sampai ke pelosok samudra
dan seluruh pantai mendengar nya,,,,,
Benarkah.... ??
Benarkah......
Tentang apa yang telinga ku dengar saat ini
kau masih saja menyimpan segenggam rasa cinta
rindu, sayang atau cuma pura pura,
ah biiarkan saja
Benarkah.....
tentang apa yang mata ku lihat saat ini
kau begitu terbakar dan amarah mu meluap
menyala, menyesakkan dada,
ketika aku jalan berdua dengan kekash ku
atau itu hanya modus mu saja,
ah biarkan saja
Benarkah......
kau masih terpahat rasa cemburu
yang menyiksa batin mu,
yang kau kumpulkan makin membeku
namun kau tak bisa apa apa
seperti aku dulu,??
ah biarkan saja
Benarkah.....
kau masih setia menunggu,menanti
meski harapan itu tak pasti
dan kau jua tahu penantian mu
sia sia,
bagai nunggu hujan di musim kemarau
ah biarkan saja
Benarkah.....
kau susah tidur,?
yang kau genggam hanya sedih,kecewa
merana sulit melepas beban
yang ada hanya kegelapan menyelimuti
seluruh hidup yang makin tak berarti
ah biarkan saja
Ah segala asa yang melambung tinggi
di antara hati dan batin
aku tak perduli,
kejam,? mungkin ia
Ah biarkan saja
Minggu,03;68
10.12.017
diaryanafatih.blogspot.com
